“PERAN
FILSAFAT DALAM
PENDIDIKAN DAN ILMU KEPERAWATAN”
OLEH :
HARIADI NUR
A.11.03.025
MUH.ARFAH
A.11.03.033
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirrobbil’aalamiin, puji
dan syukur penyusun panjatkan Kehadirat Allah SWT berkat rahmat serta
hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan salah satu tugas pada mata kuliah Filsafat ini.
Makalah ini berisikan tentang filsafat secara umum dan peranan
filsafat dalam kehidupan. Selain itu makalah ini juga berisikan peranan
filsafat dalam pendidikan dan ilmu keperawatan
Penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu saran dan masukan yang membangun sangat diharapkan untuk
perbaikan baik dari segi isi materi maupun sistematika penulisannya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bulukuma, September 2012
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Filsafat saat ini telah berkembang
lebih maju dalam berbagai bidang dan mempunyai peranan penting dalam kehidupan.
Cabang filsafat sendiri saat ini telah berkembang dalam berbagai bidang yaitu
filsafat pengetahuan, filsafat moral, filsafat seni, metafisika, politik,
filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat
sejarah, filsafat matematika dan lain sebagainya. Filsafat juga sangat berperan
dalam bidang kesehatan khususnya keperawatan. Filsafat dalam bidang keperawatan
ini dapat dipandang atau dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi filsafat
pendidikannya dan filsafat ilmu keperawatannya serta pelayanannya. Oleh karena
itu dalam kurikulum pendidikan saat ini di perguruan tinggi terutama dalam
program pendidikan pasca sarjana magister keperawatan, filsafat telah banyak
dimasukkan sebagai salah satu mata ajar yang harus ditempuh peserta didik.
Filsafat dalam bidang pendidikan
keperawatan mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (dosen/guru) sehingga
akan dapat mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar
(PBM). Selain itu dengan adanya filsafat akan didapatkan pengetahuan yang murni
atau kemajuan pengetahuan di bidang pelayanan keperawatan untuk dapat
diaplikasikan demi kesembuhan pasien dengan didasarkan pada premis-premis
pendukung hal tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, penulis
tertarik untuk menulis paper yang membahas tentang peranan filsafat
dalam pendidikan dan keperawatan.
B.
TUJUAN
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tetang apa itu
filsafat, peranannya dalam kehidupan, peranannya dalam pendidikan serta
peranannya dalam ilmu keperawatan.
BAB II
ISI
Sebelum kita membahas tentang filsafat dalam pendidikan
dan filsafat dalam keperawatan, kita akan sedikit membahas dulu tentang
filsafat dan perannya dalam kehidupan.
A.
FILSAFAT
Kata falsafah atau filsafat dalam
bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga
diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini,
kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia =
persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan").
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata
filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk
terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang
mendalami bidang falsafah disebut "filsuf". Filsafat adalah studi
tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan
dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika.
Sejarah perkembangan filsafat itu
sendiri melalui lima tahapan yaitu :
1.
Filsafat Yunani
Kuno
Dalam filsafat
yunani kuno ini filsafat umum yang masih dominan tetapi agama juga masih
berperan. Tokohnya antara lain : thales dan phytagoras
2.
Filsafat Yunani
Dalam filsafat
ini menyatakan bahwa hakikat manusia tidak terlepas antara tubuh dan jiwa.
Tokohnya adalah plato dan aristoteles
3.
Filsafat Abad
Pertengahan
Dalam filsafat
ini menyatakan bahwa agama sebagai kekuatan baru, filsuf berasal dari
rohaniawan dan wahyu punya otoritas dalam menentukan kebenaran. Adapun tokohnya
: santo anselmus, thomas aquinas, dan augustinus
4.
Filsafat Modern
Inti dari
filsafat ini adalah sebagai era pembebasan terhadap jaman skolastik. Tokohnya
antara lain : francis bacon, thomas hobbes, john locke dan voltaire
5.
Filsafat
Posmodern
Inti dari
filsafat ini adalah mendobrak sifat filsafat modern yang mengagungkan
keuniversalitasan, kebenaran tunggal dan kebebasnilaian. Tokohnya adalah
williams james, john dewey.
Filsafat sekarang ini mempunyai
beberapa cabang antara lain epistemologi, etika, estetika, metafisika, politik,
filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat
sejarah dan filsafat matematika.
B.
PERAN FILSAFAT DALAM KEHIDUPAN
Pentingnya kita belajar filsafat adalah
karena dalam sejarah filsafat kita bertemu dengan hasil penyelidikan semua
cabang filsafat. Sejarah filsafat mengajarkan jawaban-jawaban yang diberikan
oleh pemikir-pemikir besar, tema-tema yang dianggap penting dalam periode
tertentu, dan aliran-aliran besar yang menguasai pemikiran dalam suatu jaman
atau diseluruh bagian dunia tertentu.
Secara garis besar manfaat atau peranan
filsafat dalam kehidupan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai dasar
dalam bertindak.
2. Sebagai dasar
dalam mengambil keputusan.
3. Untuk
mengurangi salah paham dan konflik.
4. Untuk bersiap
siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
Menawarkan
metode-metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia, tentang
hakikat kebenaran dan pengetahuan, baik biasa maupun ilmiah, tentang
tanggung jawab, dan keadilan dan sebagainya.
- 6. Mampu mendalami, menanggapi, serta belajar dari jawaban-jawaban yang sampai sekarang ditawarkan oleh para pemikir dan filosof terkemuka terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Sedangkan filsafat sendiri bisa kita
terapkan di negara kita yaitu di Indonesia, karena kita kaitkan peranan
filsafat dengan lingkungan sosial dan budaya. Adapun peranan filsafat di
Indonesia adalah sebagai berikut :
- Bangsa indonesia terletak di tengah-tengah dinamika proses modernisasi yang meliputi banyak bidang dan hanya hanya untuk sebagian dapat dikemudikan melalui kebijakan pembangunan. Menghadapi tantangan modernisasi dengan perubahan pandangan hidup, nilai-nilai, dan norma-norma. Filsafat dapat membantu untuk mengambil sikap yang sekaligus terbuka dan kritis.
- Filsafat merupakan sarana yang baik untuk menggali kembali kekayaan-kebudayaan, tradisi-tradisi, dan filsafat indonesia serta untuk mengaktualisasikannya bagi Indonesia modern yang sedang kita bangun. Filsafatlah yang paling sanggup untuk mendekati warisan rohani tidak hanya secara museal dan verbalistik, melainkan evaluatif, kritis, dan refleksif, sehingga kekayaan rohani bangsa dapat menjadi modal dalam pembentukan terus-menerus identitas modern bangsa Indonesia.
- Filsafat merupakan dasar paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual bangsa pada umumnya dan pada khususnya pada lingkungan universitas-universitas dan lingkungan akademis.
- Menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog diantara agama-agama yang ada di Indonesia pada umumnya dan secara khusus dalam rangka kerja sama antar-agama dalam membangun masyarakat adil-makmur berdasarkan pancasila.
C.
FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu adalah bagian dari
filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi
berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge,
pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali
dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni
epistemology dan ontology (on=being, wujud, apa+logos = teori ), ontology (
teori tentang apa ).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh
pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah
dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu
pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah
disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa, sehingga memenuhi asas
pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan
demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas
ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan
tak-ilmiah adalah yang masih tergolong prailmiah. Dalam hal ini berupa
pengetahuan hasil serapan indrawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah
lama maupun baru didapat. Disamping itu termasuk yang diperoleh secara pasif
atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).
Inti sari dari filsafat ilmu terdiri
dari kebenaran, fakta, logika, dan konfirmasi. Adapun ciri-ciri dan cara kerja
filsafat ilmu antara lain sebagai berikut:
1.
Mengkaji dan
menganalisis konsep-konsep, asumsi dan metode ilmiah
2.
Mengkaji
keterkaitan ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya
3. Menyelidiki
berbagai dampak pengetahuan ilmiah terhadap : cara pandang manusia, hakikat
manusia, nilai-nilai yang dianut manusia, tempat tinggal manusia, sumber-sumber
pengetahuan dan hakekatnya, logika dengan matematika, logika dan matematika
dengan realitas yang ada
Sedangkan fungsi dari filsafat ilmu itu
sendiri antara lain :
1.
Alat-alat untuk
menulusuri kebenaran segala hal-hal yang dapat disaksikan dengan panca indra
dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah
2.
Memberikan
pengertian tentang cara hidup dan pandangan hidup
3.
Panduan tentang
ajaran moral dan etika
4.
Sumber ilham
dan panduan untuk menjalani berbagai aspek kehidupan
Sehingga dengan demikian filsafat ilmu
sangatlah penting peranannya bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Tentu juga
filsafat ilmu sangat bermanfaat bagi manusia untuk menjalani berbagai aspek
kehidupan.
D.
FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DAN PERANANNYA
Pendidikan sangat penting untuk
meningkatkan kesejahteraan bangsa terutama bangsa Indonesia. Pendidikan adalah
upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik,
potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat
berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita
kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan,
kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.
Sehingga dalam dunia pendidikanpun tetap tidak bisa terlepas dari peranan
filsafat didalamnya. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam
studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan juga bisa
didefinisikan sebagai aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat
itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses
pendidikan. Filsafat pendidikan itu dapat menjelaskan nilai-nilai dan
matlamat-matlamat yang diusahakan untuk mencapainya. Dengan ini maka filsafat,
filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusiaan merupakan suatu unsur yang
bersatu dan berpadu.
Dalam filsafat pendidikan sendiri ada
tiga aliran yaitu filsafat pendidikan progresivisme, filsafat pendidikan
essensialisme, dan perenialisme. Progresivisme berpendapat
tidak ada teori realita yang umum, nilai berkembang terus karena adanya
pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan
dalam kebudayaan dan kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental,
yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Filsafat
pendidikan essensialisme didukung oleh idealisme dan realisme. Esensialisme
berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai-nilai yang telah
teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa. Menurut
idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan
dunia besar. Sedangkan menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat
bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Hal ini sedikit
berbeda dengan filsafat pendidikan perenialisme. Filsafat ini hanya
didukung oleh idealisme. Filsafat ini menyatakan bahwa program pendidikan yang
ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal selain itu
perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat
sebagai alat untuk mencapainya.
Filsafat pendidikan terdiri dari apa
yang diyakini seorang Dosen/guru mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan
prinsip yang membimbing tindakan profesional dosen/guru. Setiap dosen/guru baik
mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat
keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus
manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Filsafat
pendidikan secara vital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek
pengajaran. Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para
dosen/guru dapat menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan. Sehingga
terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dengan keyakinannya:
- Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran
Komponen
penting filsafat pendidikan seorang dosen/guru adalah bagaimana memandang
pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran pokok dosen/guru.
Sebagian guru memandang pengajaran sebagai sains, suatu aktifitas kompleks.
Sebagian lain memandang sebagai suatu seni, pertemuan yang sepontan, tidak
berulang dan kreatif antara dosen/guru dan siswa. Yang lainnya lagi memandang
sebagai aktifitas sains dan seni. Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian
dosen/guru menekankan pengalaman-pengalaman dan kognisi siswa, yang lainnya
menekankan perilaku siswa.
- Keyakinan mengenai mahasiswa
Akan
berpengaruh besar pada bagaimana dosen/guru mengajar. Seperti apa mahasiswa yang
dosen yakini, itu
didasari pada pengalaman kehidupan unik dosen. Pandangan negatif terhadap siswa
menampilkan hubungan dosen/-mahasiswa pada
ketakutan dan penggunaan kekerasan tidak didasarkan kepercayaan dan
kemanfaatan. Dosen/guru yang memiliki pemikiran filsafat pendidikan mengetahui
bahwa anak-anak berbeda dalam kecenderungan untuk belajar dan tumbuh.
- Keyakinan mengenai pengetahuan
Berkaitan
dengan bagaimana dosen/guru melaksanakan pengajaran. Dengan filsafat
pendidikan, dosen/guru akan dapat memandang pengetahuan secara menyeluruh,
tidak merupakan potongan-potongan kecil subyek atau fakta yang terpisah.
- Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui
Dosen/guru menginginkan para mahasiswanya
belajar sebagai hasil dari usaha mereka, sekalipun masing-masing dosen/guru
berbeda dalam meyakini apa yang harus diajarkan.
Filsafat pendidikan mempunyai banyak
peranan dalam pengembangan ilmu pendidikan. Tujuan filsafat pendidikan
memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang
ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan
prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik
pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa
implementasi kurikulum dan interaksi antara dosen dengan peserta didik guna
mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori
pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan
tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat
dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di
lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang dosen
perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan
seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau
miskonsepsi pada diri peserta didik.
Secara garis besar manfaat dan peranan
filsafat pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Dapat menolong
perancang-perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu
Negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan.
2.
Dapat membentuk
asas yang dapat ditentukan pandangan pengkajian yang umum dan yang khas.
3.
Menjadikan asas
yang terbaik untuk penilain pendidikan dalam arti yang menyeluruh.
4.
Menjadi
sandaran intelektual yang digunakan untuk membela tindakan-tindakan mereka dala
bidang pendidikan dan pengajaran dalam melaksanakan falsafah.
5. Akan menolong
untuk memberikan pendalaman fikiran bagi pendidikan kita dan akan mengaitkannya
dengan factor spiritual, kebudayaan, social, ekonomi, dan politik di negeri
kita
E.
FILSAFAT DALAM KEPERAWATAN DAN PERANANNYA
Keperawatan saat ini tengah mengalami
masa transisi panjang yang tampaknya belum akan segera berakhir. Keperawatan
yang awalnya merupakan vokasi dan sangat didasari oleh mother instinct –
naluri keibuan, mengalami perubahan atau pergeseran yang sangat mendasar atas
konsep dan proses, menuju keperawatan sebagai profesi. Perubahan ini terjadi
karena tuntutan dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan
secara umum, perkembangan IPTEK dan perkembangan profesi keperawatan sendiri.
Keperawatan sebagai profesi harus
didasari konsep keilmuan yang jelas, yang menuntun untuk berpikir
kritis-logis-analitis, bertindak secara rasional–etis, serta kematangan untuk
bersikap tanggap terhadap kebutuhan dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan
pelayanan keperawatan. Keperawatan sebagai direct human care harus dapat
menjawab mengapa seseorang membutuhkan keperawatan, domain keperawatan dan
keterbatasan lingkup pengetahuan serta lingkup garapan praktek keperawatan,
basis konsep dari teori dan struktur substantif setiap konsep menyiapkan
substansi dari ilmu keperawatan sehingga dapat menjadi acuan untuk melihat
wujud konkrit permasalahan pada situasi kehidupan manusia dimana perawat atau
keperawatan diperlukan keberadaannya. Secara mendasar, keperawatan sebagai
profesi dapat terwujud bila para profesionalnya dalam lingkup karyanya
senantiasa berpikir analitis, kritis dan logis terhadap fenomena yang
dihadapinya, bertindak secara rasional-etis, serta bersikap tanggap atau peka
terhadap kebutuhan klien sebagai pengguna jasanya. Sehingga perlu dikaitkan
atau dipahami dengan filsafat untuk mencari kebenaran tentang ilmu keperawatan
guna memajukan ilmu keperawatan.
Filsafat keperawatan merupakan
pandangan dasar tentang hakekat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan
kerangka dasar dalam praktek keperawatan. Pendapat lain tentang filsafat
keperawatan adalah suatu ilmu yg mempalajari tentang cara berfikir seorang
perawat dalam menghadapi pasiennya tentang kebenaran dan kebijaksanaan sehingga
tingkat kesejahteraan dan kesehatan pasien dapat meningkat. Ilmu keperawatan
jika dilihat dari sudut pandang filsafat akan dapat muncul
pertanyaan-pertanyaan antara lain pertanyaan ontologi ( apa ilmu keperawatan ),
pertanyaan epistemologi ( bagaimana lahirnya ilmu keperawatan ) dan pertanyaan
aksiologi ( untuk apa ilmu keperawatan itu digunakan )
Jawaban pertanyaan ontologi tentang apa
itu ilmu keperawatan dapat didefinisikan dalam beberapa pendapat. Calilista Roy
(1976) mendefinisikan bahwa keperawatan merupakan definisi ilmiah yang
berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan
untuk memberikan pelayanan kepada klien. Sedangkan Florence Nightingale (1895)
mendefinisikan keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan
pasien dalam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak. Dari
beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keperawatan adalah upaya
pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan expert, holistic
berdasarkan ilmu dan kiat, serta standart pelayanan dengan berpegang teguh
kepada kode etik yang melandasi perawat expert secara mandiri atau melalui
upaya kolaborasi.
Jawaban pertanyaan epistemologi tentang
bagaimana lahirnya ilmu keperawatan berkaitan dengan kehidupan dahulu. Secara
naluriah keperawatan lahir bersamaan dengan penciptaan manusia. Orang-orang
pada zaman dahulu hidup dalam keadaan original. Namun demikian mereka sudah
mampu memiliki sedikit pengetahuan dan kecakapan dalam merawat atau mengobati.
Perkembangan keperawatan dipengaruhi oleh semakin majunya peradaban manusia
maka semakin berkembang keperawatan. Pekerjaan “merawat” dikerjakan berdasarkan
naluri (instink) “mother instinct” (naluri keibuan) yang merupakan suatu
naluri yang bersendi pada pemeliharaan jenis (melindungi anak, dan merawat
orang lemah). Diawali ole seorang Florence Nightingale yang mengamati fenomena
bahwa pasien yang dirawat dengan keadaan lingkungan yang bersih ternyata lebih
cepat sembuh dibanding pasien yang dirawat dalam kondisi lingkungan yang kotor.
Hal ini membuahkan kesimpulan bahwa perawatan lingkungan berperan dalam
keberhasilan perawatan pasien yang kemudian menjadi paradigma keperawatan
berdasarkan lingkungan. Sehingga semenjak itu banyak pemikiran baru yang
didasari dengan berbagai tehnik untuk mendapatan kebenaran baik dengan cara
Revelasi (pengalaman pribadi), otoritas dari seorang yang ahli, intuisi (diluar
kesadaran), dump common sense (pengalaman tidak sengaja), dan penggunaan
metode ilmiah dengan penelitian-peneltian dalam bidang keperawatan. Misalnya Peplau
(1952) menemukan teori interpersonal sebagai dasar perawatan. Orlando
(1961) menemukan teori komunikasi sebagai dasar perawatan. Roy (1970) menemukan
teori adaptasi sebagai dasar perawatan. Johnson (1961) menemukan stabilitas
sebagai tujuan perawatan dan Rogers (1970) menemukan konsep manusia yang unik.
Jawaban pertanyaan aksiologis diatas
dapat dijelaskan bahwa ilmu keperawatan digunakan sebagai ilmu, pedoman, dan
dasar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan berbagai
tingkatan dari individu, keluarga, kelompok bahkan sampai masyarakat luas guna
meningkatkan derajat kesehatan pasien tersebut. Sehingga bisa merubah kondisi
seseorang atau sekelompok orang dari kondisi sakit menjadi sembuh dan yang
sudah sehat dapat mempertahankan atau mengoptimalkan derajat kesehatannya.
Hakekat manusia sebagai makhluk
biopsikososio dan spritual, pada hakekatnya keperawatan merupakan suatu ilmu
dan kiat, profesi yang berorientasi pada pelayanan, memiliki tingkat klien
(individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) serta pelayanan yang mencakup
seluruh rentang pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Adapun hakekat
keperawatan adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai ilmu
dan seni, merupakan suatu ilmu yang didalam aplikasinya lebih kearah ilmu
terapan.
2. Sebagai profesi
yang berorientasi kepada pelayanan umtuk membantu manusia mengatasi masalah
sehat dan sakit dalam kehidupannya untuk mencapai kesejahteraan.
3. Sebagai
pelayanan kesehatan yang memiliki tiga sasaran, diantaranya individu, keluarga
dan masyarakat sebagai klien.
4. Sebagai
kolaborator dengan tim kesehatan lainnya dalam pembinaan kesehatan, pencegahan
penyakit, penentuan diagnosis dini, penyembuhan serta rehabilitasi dan
pembatasan penyakit.
Sedangkan esensinya yang meliputi:
1. Memandang pasien
sebagai makhluk yang utuh (holistik) yang harus dipenuhi segala kebutuhannya
baik biospikososio dan spritual yang diberikan secara komprehensif dan tidak
bisa dilakukan secara sepihak atau sebagian dari kebutuhannya.
2. Bentuk
pelayanan keperawatan harus diberikan secara langsung dengan memperhatikan
aspek kemanusiaan.
3. Setiap orang
berhak mendapatkan perawatan tanpa memandang perbedaaan suku, kepercayaan,
status sosial, agama dan ekonomi.
4. Pelayanan
keperawatan tersebut merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan
mengingat perawat bekerja dalam lingkup tim kesehatan bukan sendiri-sendiri.
5.
Pasien adalah
mitra aktif dalam pelayanan kesehatan bukan sebagai penerima jasa yang pasif.
Keperawatan sebagai sains tentang human
care didasarkan pada asumsi bahwa human science and human care
merupakan domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human
science keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan
estetia, humanities dan kiat/art (Watson,1985). Sebagai pengetahuan tentang
human care fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi inti
keperawatan, seperti dinyatakan oleh Watson (1985) human care is the heart
of nursing atau Leininger (1984) yang menekankan caring is the central
and unifying domain for the body of knowledge and practices of nursing.
Dalam eksplikasi sains tentang human
care, pencarian harus termasuk pada beragam metoda untuk memperoleh
pemahaman utuh dari human phenomena. Pencarian ini harus memfasilitasi
integrasi pengetahuan dari biomedical, perilaku, sosiokultural, seni dan
humaniora untuk menemukan pengetahuan keperawatan baru. Melalui strategi
integrasi dan analisis, dunia objektifitas dapat dihubungkan dengan dunia subjektif
dari pengalaman manusia untuk mencapai linkage ini. Perspektif tentang human
science memberi kesempatan bagi pemikir atau peneliti keperawatan untuk
melakukan telaah terhadap keilmuan keperawatan dan arahnya, guna meletakkan
dasar-dasar subject matter serta tanggung jawab ilmiah dan sosialnya.
Melalui perspektif ini, kajian terhadap makna, nilai etika tentang manusia,
kesehatan dan keperawatan dapat dilakukan.
Dalam konteks ini, pemahaman tentang
human science berbasis pada filosofi tentang kebebasan, pilihan dan tanggung
jawab manusia biologi dan psikologi tentang keutuhan manusiawi (holism).
Epistemologi bukan hanya secara empiris tetapi juga pengembangan estetis,
nilai-nilai etis, intuisi dan proses eksplorasi dan penemuan konteks hubungan,
dan proses interaksi antar manusia.
Relevansi antara filsafat ilmu dengan keperawatan dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Filsafat keperawatan mengkaji penyebab
dan hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingintahuan tentang gambaran
sesuatu yang lebih berdasakan pada alasan logis daripada metoda empiris.
Filsafat keilmuan harus menunjukkan bagaimana pengetahuan ilmiah sebenarnya
dapat diaplikasikan yang kemudian menghasilkan pengetahuan alam semesta, dalam
hal ini pengetahuan keperawatan, sehingga filsafat keperawatan adalah keyakinan
dasar tentang pengetahuan keperawatan yang mengandung pokok pemahaman biologis
manusia dan perilakunya dalam keadaan sehat dan sakit terutama berfokus kepada
respons mereka terhadap situasi.
Manfaat/peranan Filsafat dalam Ilmu Keperawatan
Dalam pengembangan ilmu keperawatan
tidak bisa terlepas dari peranan filsafat didalamnya. Adapun manfaat atau
peranan filsafat dalam keperawatan antara lain adalah :
1. Memudahkan
proses keperawatan karena tanpa mempelajari filsafat ilmu keperawatan maka akan
semakin sulit melaksanakan proses keperawatan.
2. Dengan
mengetahui dan melaksanakan perilaku yang mengandung makna, rasa cinta terhadap
kebijaksanaan, terhadap pengetahuan, terhadap hikmah dan ucapannya yang baik
dan sopan seseorang dapat mengetahui bagaimana landasan dasar dari ilmu
keperawatan tersebut.
3. Dapat
memecahkan suatu permasalahan meliputi dampak teknologi, sosial budaya,
ekonomi,
pengobatan
alternatif, kepercayaan spritual dan masih banyak yang lainnya mengenai seluk
beluk lingkup profesi keperawatan yang semuanya digunakan dalam hal pencapaian
profesionalisme seorang perawat.
4. Menghindari dan
meminimalisasi kesalahpahaman dan konflik dalam pencarian kebenaran tentang
ilmu keperawatan.
5. Sebagai dasar
dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan untuk bertindak melalui
pengalaman-pengalaman yang sudah ada.
6. Mendapatkan
kebenaran tentang hal-hal yang dianggap belum pasti apakah tindakan yang kita
lakukan dan pendapat yang kita keluarkan itu adalah benar atau salah, misalnya
jika kita melakukan tindakan seperti injeksi terhadap klien kita harus tahu
terlebih dahulu prosedur-prosedur apa saja yang dilakukan, jadi setelah kita
mengetahuinya maka kita akan melakukan tindakan itu secara benar.
7. Dengan filsafat
seorang perawat dapat menggunakan kebijaksanaan yang dia peroleh dari filsafat
sehingga perawat tersebut dapat lebih berfikir positif (positif thinking)
dan dengan positif thinking tersebut seorang perawat dapat menjalankan
tugasnya dengan baik sehingga pasien yang tadinya susah berkomunikasi dapat
menjadi lebih dapat berkomunikasi dengan baik dan akhirnya dapat mempercepat
proses penyembuhan pasien tersebut
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Filsafat dalam keperawatan mempunyai peranan yang sangat
penting. Keperawatan sendiri bisa dilihat dari dua sudut yaitu tentang ilmu
keperawatan itu sendiri dan tentang pendidikan keperawatan. Peran filsafat
dalam pendidikan bagi dosen dalam perguruan tinggi yaitu supaya tahu bagaimana
cara memperlakukan mahasiswanya, dosen mengetahui apa yang harus diberikan
kepada mahasiswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan keperawatan, dan
bagaimana cara menyampaikan pengetahuan keperawatan tersebut kepada mahasiswanya
sehingga mahasiswanya bisa mengaplikasikannya. Sedangkan filsafat dalam
keperawatan adalah keyakinan dasar tentang pengetahuan keperawatan yang
mengandung pokok pemahaman biologis manusia dan perilakunya dalam keadaan sehat
dan sakit terutama berfokus kepada respon mereka terhadap situasi. Manfaat
filsafat dalam keperawatan salah satunya adalah mendapatkan kebenaran tentang
hal-hal yang dianggap belum pasti apakah tindakan yang kita lakukan dan
pendapat yang kita keluarkan tentang dunia keperawatan itu adalah benar atau
salah
B.
SARAN
Penerapan filsafat dalam pendidikan keperawatan masih
belum merata sehingga diharapkan semua institusi pendidikan keperawatan
menerapkan filsafat untuk masuk dalam kurikulum pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat A aziz
alimul. 2002. Pengantar
Dokumentasi Proses Keperawatan. EGC, salemba medika: Jakarta
Irmayanti
Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. hal. 1
Poedjiadi, A.
2008. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu Pendidikan.
Diposkan 15 Januari 2008. Diakses 26 November 2011. URL : http://www.education.com/filsafat
Sadulloh, U.
2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung
Soemowinoto, S. 2008. Pengantar Filsafat
Ilmu Keperawatan.
Jakarta :
Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar